Notification

×

Iklan

Iklan

DIDUGA DIRUNDUNG DI SEKOLAH RAKYAT EMPAT LAWANG, SISWA ALAMI PATAH TANGAN — PENGAWASAN ASRAMA DIPERTANYAKAN

Minggu, 13 September 2026 | September 13, 2026 WIB Last Updated 2026-09-13T07:46:06Z



EMPAT LAWANG — Dugaan perundungan di lingkungan Sekolah Rakyat Kabupaten Empat Lawang mencuat. Seorang siswa berinisial E diduga menjadi korban kekerasan oleh sejumlah siswa lainnya hingga mengalami cedera serius pada tangan kanannya.


Peristiwa tersebut membuat E harus mendapatkan penanganan medis di RSUD Empat Lawang dan untuk sementara dipulangkan ke rumah. Aktivitas belajarnya di Sekolah Rakyat pun terhenti akibat kondisi yang dialaminya.


Informasi yang dihimpun menyebutkan, insiden diduga terjadi setelah salat Isya, ketika para siswa tengah melakukan pembagian bantal. Dalam situasi tersebut, E disebut diduga dicegat oleh sejumlah siswa hingga terjadi keributan yang berujung pada tindakan kekerasan.


Akibat kejadian itu, tangan kanan korban mengalami cedera dan berdasarkan pemeriksaan medis yang disampaikan keluarga, korban diduga mengalami patah tulang.


Kasus ini sontak menjadi perhatian serius. Bukan hanya menyangkut dugaan kekerasan terhadap seorang anak, tetapi juga mempertanyakan sistem pengawasan dan keamanan siswa di lingkungan Sekolah Rakyat, khususnya kawasan asrama.


Keluarga korban berharap persoalan tersebut tidak berhenti pada penanganan medis semata. Mereka meminta pihak terkait mengusut secara menyeluruh apa yang sebenarnya terjadi, memberikan perlindungan kepada korban, serta memastikan anak-anak di Sekolah Rakyat berada dalam lingkungan yang aman.


Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kabupaten Empat Lawang, Ice Apra Listiana, membenarkan adanya kejadian tersebut.


“Iya, benar itu di Sekolah Rakyat Empat Lawang,” ungkap Ice saat dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp.


Sementara itu, Kepala Bidang Rehabilitasi Dinas Sosial Empat Lawang, Mardalena, mengatakan pihaknya langsung bergerak setelah menerima informasi mengenai kondisi korban.


“Dapat informasi itu kami langsung bawa ke rumah sakit bersama wali asuh untuk diobati,” ujarnya.


Setelah mendapatkan penanganan medis, E kemudian dipulangkan ke rumah.


Namun, muncul pertanyaan lebih jauh mengenai pengawasan di lingkungan asrama Sekolah Rakyat. Informasi yang diterima menyebutkan, saat dugaan insiden berlangsung, tidak terdapat penanggung jawab asrama di lokasi.


Jika informasi tersebut benar, kondisi ini tentu perlu menjadi bahan evaluasi serius. Sebab, lingkungan asrama merupakan ruang tempat siswa berada di luar jam belajar dan membutuhkan pengawasan serta perlindungan yang memadai.


Sekolah Rakyat tidak boleh hanya bicara soal pendidikan. Keselamatan dan perlindungan anak harus menjadi prioritas.


Pihak terkait didesak melakukan penelusuran secara menyeluruh, mulai dari kronologi kejadian, pihak-pihak yang terlibat, hingga sistem pengawasan pada saat insiden berlangsung.


Selain itu, korban juga perlu mendapatkan pendampingan dan perlindungan, sementara dugaan pelaku harus ditangani sesuai ketentuan yang berlaku setelah fakta dan kronologi dipastikan.


Jangan sampai sekolah yang seharusnya menjadi tempat anak-anak menuntut ilmu justru menjadi tempat mereka mengalami kekerasan.


Kasus ini kini menjadi ujian bagi keseriusan pengelola dan pihak terkait dalam memastikan Sekolah Rakyat Empat Lawang benar-benar menjadi lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan ramah bagi anak.

×
Berita Terbaru Update