MUARA BELITI – Sumselinfo.com
Kontras tajam tersaji di Kabupaten Musi Rawas. Di tengah euforia keberhasilan Pemerintah Kabupaten meraih penghargaan Universal Health Coverage (UHC) beberapa hari lalu, sebuah potret kemiskinan ekstrem justru luput dari radar. Guntur (70), seorang lansia yang hidup sebatang kara di sebuah desa di Kecamatan Muara Beliti, kini harus bertahan hidup dalam kondisi yang memprihatinkan tanpa sentuhan bantuan pemerintah.
Sejak ditinggal wafat sang istri lima tahun silam, Kakek Guntur hanya bisa mengandalkan kunjungan sesekali dari anaknya yang berada di Kota Lubuklinggau. Di usianya yang sudah senja, ia tak lagi mampu bekerja. Ironisnya, rumah Kakek Guntur hanya berjarak kurang lebih 20 km dari pusat pemerintahan kabupaten, namun bantuan sosial yang menjadi penyambung hidupnya justru raib sejak setahun terakhir.
Saat dikunjungi tim liputan khusus Detik TV Sumsel, suasana berubah haru. Isak tangis Kakek Guntur pecah saat menerima bantuan sembako dari sahabat detik tv Sumsel Namun, di balik air mata itu, tersimpan sebuah pengakuan yang mengejutkan terkait alasan penghentian bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) miliknya.
"Semenjak tahun 2024 saya tidak dapat lagi. Kata ibu petugas pendamping PKH desa, saya tidak dapat bantuan lagi karena katanya terindikasi judi online (judol)," ungkap Guntur dengan nada lirih.
Tuduhan ini terasa sangat janggal dan menyakitkan mengingat kondisi fisik dan ekonomi sang kakek yang jangankan untuk berjudi, untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari pun ia kesulitan.
Antara Penghargaan dan Realita di Lapangan
Kasus Kakek Guntur menjadi tamparan keras bagi kredibilitas penghargaan bidang kesehatan dan kesejahteraan yang baru saja diterima Bupati Musi Rawas. Penghargaan UHC seharusnya mencerminkan jaminan perlindungan bagi seluruh warga, terutama mereka yang paling rentan seperti lansia sebatang kara.
Fakta bahwa seorang lansia dicoret dari daftar penerima manfaat dengan alasan yang tidak masuk akal menunjukkan adanya,
Verifikasi Data yang Asal-asalan: Bagaimana mungkin seorang lansia 70 tahun yang hidup memprihatinkan dituduh terlibat judi online tanpa bukti valid?
Lemahnya Pengawasan di Tingkat Desa: Peran pendamping PKH patut dipertanyakan dalam melakukan validasi faktual di lapangan.
Kesenjangan Komunikasi: Jarak 20 km dari ibu kota kabupaten seolah menjadi tembok besar yang menghalangi perhatian pemerintah daerah.
Kakek Guntur kini hanya bisa berharap adanya keajaiban dan nurani dari pihak terkait untuk memulihkan haknya sebagai warga negara yang layak mendapatkan jaminan sosial untuk bertahan hidup disisa hidupnya. (Red).
